h1

Kode Etik Guru di Indonesia

Januari 10, 2010

KODE ETIK GURU INDONESIA

Persatuan Guru Republik Indonesia menyadari pendidikan merupakan suatu bidang pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan Tanah air, kemanusiaan pada umumnya; dan guru Indonesia yang berjiwa Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 merasa turut bertanggung jawab pada terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Atas dasar itu, Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya sebagai guru dengan mempedomani isi pernyataan berikut ini serta penjabarannya :

  1. Guru berbakti membimbing peserta didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
    1. Guru menghormati hak individu dan kepribadian peserta didiknya masing-masing.
    2. Guru berusaha mensukseskan pendidikan yang serasi (jasmaniah dan rohaniah) bagi peserta didiknya.
    3. Guru harus menghayati dan mengamalkan Pancasila, Pendidikan Moral Pancasila bagi peserta didiknya.
    4. Guru harus menghayati dan mengamalkan Pancasila.
    5. Guru melatih dan memecahkan masalah-masalah dan membina daya kreasi peserta didik, agar kelak dapat menunjang masyarkat yang sedang membangun.
    6. Guru membantu sekolah di dalam usaha menanamkan pengetahuan keterampilan kepada peserta didik.
    7. Guru memilki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik masing-masing.
      1. Guru menghargai dan memperhatikan perbedaan dan kebutuhan peserta didiknya masing-masing.
      2. Guru hendaknya luwes di dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik masing-masing
      3. Guru memberi pelajaran di dalam dan di luar sekolah berdasarkan kurikulum tanpa membedakan jenis dan posisi sosial orang tua peserta didiknya.
      4. Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang peserta didik, tetapi menghindarkan diri dari segala penyalahgunaan.
        1. Komunikasi guru dan peserta didik di dalam dan di luar sekolah dilandaskan pada rasa kasih sayang.
        2. Untuk berhasilnya pendidikan, maka guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang keluarganya masing-masing.
        3. Komunikasi guru ini hanya diadakan semata-mata untuk kepentingan pendidikan peserta didik.
        4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memlihara hubungan dengan orang tua peserta didik dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan peserta didik.
          1. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah sehingga peserta didik betah berada dan belajar di sekolah.
          2. Guru menciptakan hubungan baik dengan orang tua peserta didik sehingga dapat terjalin pertukaran informasi timbal-balik untuk kepentingan peserta didik.
          3. Guru senantiasa menerima dengan lapang dada setiap kritik membangun yang disampaikan orang tua peserta didik / masyarakat terhadap kehidupan sekolahnya.
          4. Pertemuan dengan orang tua peserta didik harus diadakan secara teratur.
          5. Guru memlihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk keperluan pendidikan.
            1. Guru memperluas pengetahuan masyarakat mengenai profesi keguruan.
            2. Guru turut menyebarkan program-program pendidikan dan kebudayaan kepada masyrakat sekitarnya, sehingga sekolah tersebut turut berfungsi sebagai pusat pembinaan dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan di tempat itu.
            3. Guru harus berperan agar dirinya dan sekolahnya dapat berfungsi sebagai unsur pembaruan bagi kehidupan dan kemajuan daerahnya
            4. Guru turut bersama-sama masyarakat sekitarnya di dalam berbagai aktivitas.
            5. Guru mengusahakan terciptanya kerja sama yang sebaik-baiknya antara sekolah, orang tua peserta didik, dan masyarakat bagi kesempurnaan usaha pendidikan atas dasar kesadaran bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakatnya.
            6. Guru secara sendiri-sendiri / bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesionalnya.
              1. Guru melanjutkan  studinya dengan :

1). Membaca buku-buku.

2). Mengikuti lokakarya, seminar, gerakan koperasi, dan pertemuan-pertemuan pendidikan dan keilmuan lainnya.

3). Mengikuti  penataran, dan

4). Mengadakan kegiatan-kegiatan penelitian.

  1. Guru bicara, bersikap, dan bertindak sesuai dengan martabat profesinya
  2. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru, baik berdasarkan lingkungan kerja, maupun di dalam hubungan keseluruhan.
    1. Guru senantiasa saling bertukar informasi, pendapat, saling menasehati dan bantu membantu sesama lainnya, baik dalam hubungan kepentingan pribadi maupun dalam menunaikan tugas profesinya.
    2. Guru tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan nama baik rekan-rekan seprofesinya dan menunjang martabat guru secara keseluruhan maupun secara pribadi.
    3. Guru secara bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdiannya.
      1. Guru menjadi anggota dan membantu organisasi guru yang bermaksud membina profesi dan pendidikan pada umumnya.
      2. Guru senantiasa berusaha bagi penongkatan persatuan di antara sesama pengabdi pendidikan.
      3. Guru senantiasa bersama, agar menghindarkan diri dari sikap-sikap, ucapan-ucapan, dan tindakan-tindakan yang merugikan organisasi.
      4. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.
        1. Guru senantiasa tunduk terhadap kebijaksanaan dan ketentuan pemerintah dalam bidang pendidikan.
        2. Guru melakukan tugas profesional dengan disiplin dan rasa pengabdian
        3. Guru berusaha menyebarkan kebijaksanaan dan program pemerintah dalam bidang pendidikan kepada orang tua peserta didik dan masyarakat sekitarnya.
        4. Guru berusaha menunjang terciptanya kepemimpinan pendidikan di lingkungan atau di daerahnya sebaik-baiknya.[1]

Dengan adanya Kode Etik Guru Indonesia ini, guru-guru di Indonesia mempunyai pegangan untuk melaksanakan tugas profesionalnya. Masyarakat dan Negara ingin agar kode etik tersebut dapat dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga satu pihak masyarakat dapat jaminan pelayanan yang profesional dari guru, di lain pihak guru merasa dilindungi dengan aman melaksanakan tugasnya serta mengembangkan dirinya.

Kualitas guru-guru di Indonesia- khususnya yang berstatus PNS dan guru sekolah swasta yang “hidup segan mati takmau”, juga saat ini berada dalam titik “rendah”. Para guru juga tidak hanya gagap dalam beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan fenomena sosial kemasyarakatan, mereka juga terjebak dalam kebiasaan menjadi “robot” kurikulum pendidikan. Prakarsa inisiatif para guru untuk belajar mengalimetode, bahan ajar dan pola relasi belajar-mengajar yang baru sangat minimalis. Tidak mengherankan ketika Depdiknas merekonsepsikan dan mengimplementasikan kerangka kurikulum pembaruan, KBK (kurikulum berbasis kopetensi), banyak guru yang sangat sulit memahami.

Banyak yang menggerutu dan beranggapan KBK hanya sebagai wujud kurikulum yang “ngayawara” (tidak realistik). Rendahnya mutu atau kapabilitas guru di Indonesia, selama ini disebabkan oleh beberapafactor-factor structural: para guru selama tiga dekada Orde Baru dijadikan “bemper” politik bagi kekuatan partai Golkar.  Guru dijadikan agen politik pembagunanisme dan juga agen pemenangan program partai golkar. Melalui organisasi Korpri dan PGRI, mereka dijadikan proyek korporatisme Negara. Kuatnya politik pendidikan, yang mengontrol arah dan system pendidikan selama tiga dekade membuat para guru seperti “robot” yang dipenjara melelui tugas-tugas kedinasan yang stagnan.

Rendahnya tingkat kesejahteraan guru Indonesia membuat mereka tidak bisa optimal dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar karena selalu mengurusi persoalan ekonomi keluarga. kuatnya kultur feodalistik dalam dunia pendidikan, sehingga tidak terjadi proses “social clustering” dan regenerasi ekskusif komunitas guru muda. Pola regenerasi bukan atas dasar kemampuan akademik dan kemampuan mengajar guru, namun level kepangkatan. Pemerintah selama ini tidak memiliki kerangka acuan untuk meningkatkan kualitas sosial dan intelektual para guru. Berbagai upaya internal di birokrasi pendidikan yang konon untuk meningkatkan kapabilitas profesi guru, justru lebih banyak pada lkegiatan pembinaan dan pendisiplinan guru dalam optic pemahaman kekuasaan. Para guru dibina dan disiplinkan pengetahuan, dan sikapnya selaras dengan kehendak penguasa, agar tidak mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan doktri Negara[2].


[1] Zahara Idris dan Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan, 1992, hal 45 – 47

[2] http://wwwcakep39.blogspot.com/2007/12/kode-etik-guru-indonesia.html

About these ads

One comment

  1. guru jaman sekarang sudah tidak emmentingkan kode etik yang terpanting adalah jabatan sebgai pns, selain itu mereupakan hal yang bisa menyusul kemudian.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: