h1

Antara ke”Dungu”an, Pelanggaran dan Pengekangan…

Januari 12, 2010

Buku adalah jendela dunia, mungkin seperti itu deskripsi mengenai betapa manfaatnya sebuah buku tersebut. Tak dapat dipungkiri bahwasannya buku memberikan gambaran betapa luasnya ilmu yang tanpa batas. Namun akhir tahun 2009 kemarin terdapat fenomena heboh mengenai pembredelan buku.

Adalah pihak Kejaksaaan Agung yang memprakarsai kebijakan publik yang mengancam pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia, dengan melakukan pelarangan terhadap sejumlah publikasi, padahal beberapa diantaranya merupakan buku yang secara publik diakui memiliki bobot akademis dan disusun berdasarkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Indonesia sudah mengesahkan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 yang menjamin kebebasan berekspresi melalui tulisan. Tapi mengapa pembredelan masih kerap dilakukan, apakah hal tersebut hanyalah sekedar untuk menutupi kedok para pemimpin yang merasa tidak boleh untuk dikritik.

Memang belum jelas pelanggaran perderan buku-buku tersebut dikarenakan tidak disertai dengan alas an dan bukti-bukti yang kuat mengenai “sejauh mana mengganggu dan membahayakannya buku-buku tersebut jika diketahui oleh masyarakat banyak”. Sehingga patut diduga bahwa alas an pelanggaran buku-buku tersebut hanya didasarkan pada kecurigaan bahwa buku-buku yang ditarik tersebut mengandung muatan isu-isu yang berkaitan dengan komunisme, marxisme dan SARA. Kejaksaaan Agung juga tidak menelaah dan mendiskusikan lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait (penulis, penerbit, akademisi, dan masyarakat sipil) mengenai muatan materi dan dampak yang akan timbul dari diterbitkannya buku-buku tersebut.

Jelas hal tersebut sangat bertentangan dengan hukum dan konstitusi yang telah disahkan padahal semua itu tadi adalah menjadi suatu dasar dalam upaya pengormatan dan perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia untuk mengembankan diri dan lingkungan sosialnya.

Oleh sebab itu pelarangan tersebut apakah benar merupakan suatu larangan yang memang harus dipatuhi ataukah hanya semacam hal yang membuat kita semakin ‘dungu’ karena hak-hak yang seharunya kita terima tak dapat dicapai. Mana keberadaan kita sebagai bangsa yang demokrasi apabila kekuasaan yang kita wakilkan di parlemen masih saja bertingkah sewenang-wenag tanpa adanya gagasan mengenai rakyat kecil yang selalu dibodohi dengan jani-janji dan kebijakan-kebijakan yang justru mempersempit ruang gerak kita….

h1

Do you ever hear this… SAINT LOCO!!!

Januari 12, 2010

Rock Upon A Time

Jakarta sebagai ibukota yang dinamis dengan kondisi sosio-kultural yang beragam, mempunyai potensi mencetak band-band yang akan membawa terobosan musik dalam negeri ke kancah dunia. Banyak band yang muncul baik dari kalangan anak muda di Jakarta sendiri maupun dari luar daerah, mereka saling unjuk bakat dan kemampuan. Tak heran bila kota ini menjadi ajang kompetitif yang positif bagi kemajemukan band yang ada. Inilah yang yang memacu musisi lokal asal Jakarta untuk memberikan sesuatu yang terbaik dan terbaik lagi untuk disajikan kepada penikmatnya.

Dibesarkan di lingkungan ibukota yang keras dan tak lepas dari pengaruh globalisasi yang tiap hari menghujam, kadang bisa membuat orang putus asa. Tapi ke-putus-asa-an itu tidak berlaku bagi ke-6 anak muda ini. Berangkat dari kesamaan visi dan semangat anak muda, Iwan (gitaris), Gilbert (bassis), Nyonk (drummer), Tius (the spinner), Joe (vokalis) dan Berry (MC) menerjemahkan kerasnya metropolitan kedalam hentakan hip-rock dalam Saint Loco.

Dibentuk 20 September 2002. Sekumpulan bocah-bocah ini ingin membebaskan dirinya dari himpitan kerasnya ibu kota. Bagaimana cara mereka untuk ‘survive’ melewati hari demi hari dengan hal-hal yang positif. Perkawanan yang tumbuh dari sekedar teman jalan bareng akhirnya berkembang menjadi persahabatan saudara senasib.

Saint Loco pun bukan band kemaren sore yang tanpa kualitas. Masing-masing personil memiliki potensi dan telah melewati jam terbang sebagai session-player untuk band-band papan atas negeri ini. Sebutlah Nyonk yang merupakan drum session player untuk Glenn Fredly, Project Pop dan sebagainya, Tius seorang Disc-Jockey yang pernah menjuarai event DJ Battle di tahun 2003 dan Berry yang kerap menjuarai kontes rap di Bandung.

Distorsi gitar dalam hentakan cadas drum yang terkontaminasi beat-beat Hip-Hop-Rap merupakan bahan dasar Saint Loco untuk menyuguhkan 12 lagu dalam album yang diberi judul ROCK UPON THE TIME. Saint Loco yang resmi masuk dibawah bendera Sony Music Indonesia pada 7 May 2004, menggeber abis 80% lagu-lagu dialbum ini dalam bahasa asing. Simak saja lagu-lagu seperti “Famous Freak”, “Rock Your Voice” dan “Freedom Fighter” yang enak dinikmati walau dengan bahasa Inggris. Namun mereka juga tidak melupakan bahasa sendiri yang mereka tuntaskan dalam lagu “Hip Rock” dan “Metropolis”. Sebagai catatan tersendiri, lagu “Hip Rock” pernah masuk ke jajaran lagu-lagu terbaik pada tangga lagu PRAMBORS NuBuzz di awal-awal karirnya Saint Loco.

Pilihan “Microphone Anthem” sebagai single pertama pembuka album ini dirasa sangat pas sekali. Menurut Saint Loco, lagu ini membawa semangat anak muda yang penuh percaya diri untuk menyuarakan hatinya dan itu tersurat dalam lirik lagu ini. Dibuka dengan delay gitar yang disambut rentetan kata-kata yang dirapalkan Berry secara cepat. Lagu ini menjadi lebih ‘terasa’ karena bersinergi kuat dengan beat drum. Progessi chord yang cenderung konstan ternyata tidak membuat lagu ini terasa membosankan, justru kita terus menikmati lagu ini dalam alunan rhythm section yang melodius sambil menghentakan kepala.

Dengan komposisi 80% materi berbahasa asing tersebut, menjadi pertimbangan Sony Music Indonesia untuk melemparkan Saint Loco ke pasar Asia Tenggara. Ini sejalan dengan kontemplasi ke-6 anak muda ini memakai nama Saint Loco. Nama ini mereka ambil memaknai arti “Saint” yang hadir di muka bumi sebagai pembuat terobosan dan membawa sisi baru yang lebih cerah. Begitu pula Saint Loco yang ingin menghadirkan musik Indonesia ke penjuru dunia.

Ini adalah semangat anak muda Saint Loco. Generasi yang lahir dari kerasnya musik rock warisan orang tua dan tumbuh dalam lingkungan yang menyatukan mereka untuk membuat suatu terobosan. Terobosan menembus waktu dengan musik rock.

Ok dude, now its your turn! Lets rock this country to the world piss yo!!!

h1

Keroncong… forgettable??

Januari 10, 2010

Pada hari itu rabu malam sekitar pukul 9 malam, setelah cape’ futsal aq beranjak pulang ke kost. Waktu diperjalanan terdengar sayup-sayup lantunan merdu yang berasal dari salah satu rumah yang berada di kompleks dekat kost q, tepatnya didaerah Pringgolayan, Yogyakarta. Keroncong tepatnya jenis musik yang merdu tersebut. Akupun melambatkan motor yang kupakai sembari melihat bapak-bapak dan ibu-ibu yang berusia sekitar 50 thun begitu asyik memainkan alat musik yang mereka mainkan masing2. Masih eksis memang keberadaan musik keroncong di tanah air ini, meskipun banyaknya varian musik baru yang muncul semisal dangdut, campur sari dan lain sebagainya namun musik keroncong juga masih eksis.

Namun yang menjadi permasalahan dalam hal ini adalah apresiasi untuk musik keroncong itu sendiri hanyalah berasal dari generasi tua saja, para generasi muda seakan enggan utntuk ikut ambil  bagian dalam hal tersebut, bahkan hanya sekedar mendengarkan saja mereka ogah-ogahan. Sungguh ironis memang karena seperti yang kita ketahui bahwa musik keroncong adalah musik yang merupakan budaya bangsa yang perlu dilestarikan keberadaannya. Karena saat ini kondisinya sudah hampir tergilas oleh zaman karena adanya aliran-aliran musik baru yang sangat mempengaruhi remaja saat ini. Jika seandainya tidak ada lagi yang mau meneruskan musik keroncong, maka akan hilang salah satu aset budaya bangsa. Padahal Indonesia sempat dikenal oleh dunia internasional dengan musik keroncong melalui lagu Bengawan Solo yang diciptakan oleh Gesang. Sungguh merupakan prestasi yang membanggakan. Sayang sekali jika nantinya musik keroncong yang telah mengharumkan nama bangsa harus tergilas oleh zaman.

Keroncong Aset Budaya Bangsa

Meskipun pribadi sendiri juga menyukai musik modern tapi saya sendiri juga menikmati keroncong. Aset emas bangsa yang seharunya kita lestarikan, jangan sampai tergilas begitu saja, atau malah diklaim oleh Negara lain, seperti kasus2 yang pernah ada sebelumnya.

Oleh karena itu pemberdayaan generasi muda untuk mencintai musik keroncong sangat perlu dilakukan seperti dengan cara :

  1. Mengenalkan musik keroncong sejak usia sekolah dasar.
  2. Melatih anak usia remaja untuk menguasai teknik-teknik yang ada dalam musik keroncong.
  3. Memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk berkarya melalui musik keroncong.

Tentu seluruh aparat pemerintah diharapkan bisa ikut andil dalam mengembangkan musik keroncong, sehingga nantinya musik keroncong akan selalu eksis dan takkan tergilas oleh waktu. Musik keroncong dapat juga digunakan untuk menarik animo massa yang besar asalkan generasi muda ikut ambil bagian dalam melestarikan musik keroncong.   Generasi penerus bangsa mau tidak mau akan menghadapi dunia yang serba komplek sehingga kemajuan dari suatu bangsa akan sangat tergantung pada kualitas generasi muda. Bangsa yang berhasil mempertahankan budayanya sehingga tetap bisa terjaga sepanjang massa akan selalu menjadi teladan[1].


[1] http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&dn=20081013010952

h1

Kode Etik Guru di Indonesia

Januari 10, 2010

KODE ETIK GURU INDONESIA

Persatuan Guru Republik Indonesia menyadari pendidikan merupakan suatu bidang pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan Tanah air, kemanusiaan pada umumnya; dan guru Indonesia yang berjiwa Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 merasa turut bertanggung jawab pada terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Atas dasar itu, Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya sebagai guru dengan mempedomani isi pernyataan berikut ini serta penjabarannya :

  1. Guru berbakti membimbing peserta didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
    1. Guru menghormati hak individu dan kepribadian peserta didiknya masing-masing.
    2. Guru berusaha mensukseskan pendidikan yang serasi (jasmaniah dan rohaniah) bagi peserta didiknya.
    3. Guru harus menghayati dan mengamalkan Pancasila, Pendidikan Moral Pancasila bagi peserta didiknya.
    4. Guru harus menghayati dan mengamalkan Pancasila.
    5. Guru melatih dan memecahkan masalah-masalah dan membina daya kreasi peserta didik, agar kelak dapat menunjang masyarkat yang sedang membangun.
    6. Guru membantu sekolah di dalam usaha menanamkan pengetahuan keterampilan kepada peserta didik.
    7. Guru memilki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik masing-masing.
      1. Guru menghargai dan memperhatikan perbedaan dan kebutuhan peserta didiknya masing-masing.
      2. Guru hendaknya luwes di dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik masing-masing
      3. Guru memberi pelajaran di dalam dan di luar sekolah berdasarkan kurikulum tanpa membedakan jenis dan posisi sosial orang tua peserta didiknya.
      4. Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang peserta didik, tetapi menghindarkan diri dari segala penyalahgunaan.
        1. Komunikasi guru dan peserta didik di dalam dan di luar sekolah dilandaskan pada rasa kasih sayang.
        2. Untuk berhasilnya pendidikan, maka guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang keluarganya masing-masing.
        3. Komunikasi guru ini hanya diadakan semata-mata untuk kepentingan pendidikan peserta didik.
        4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memlihara hubungan dengan orang tua peserta didik dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan peserta didik.
          1. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah sehingga peserta didik betah berada dan belajar di sekolah.
          2. Guru menciptakan hubungan baik dengan orang tua peserta didik sehingga dapat terjalin pertukaran informasi timbal-balik untuk kepentingan peserta didik.
          3. Guru senantiasa menerima dengan lapang dada setiap kritik membangun yang disampaikan orang tua peserta didik / masyarakat terhadap kehidupan sekolahnya.
          4. Pertemuan dengan orang tua peserta didik harus diadakan secara teratur.
          5. Guru memlihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk keperluan pendidikan.
            1. Guru memperluas pengetahuan masyarakat mengenai profesi keguruan.
            2. Guru turut menyebarkan program-program pendidikan dan kebudayaan kepada masyrakat sekitarnya, sehingga sekolah tersebut turut berfungsi sebagai pusat pembinaan dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan di tempat itu.
            3. Guru harus berperan agar dirinya dan sekolahnya dapat berfungsi sebagai unsur pembaruan bagi kehidupan dan kemajuan daerahnya
            4. Guru turut bersama-sama masyarakat sekitarnya di dalam berbagai aktivitas.
            5. Guru mengusahakan terciptanya kerja sama yang sebaik-baiknya antara sekolah, orang tua peserta didik, dan masyarakat bagi kesempurnaan usaha pendidikan atas dasar kesadaran bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakatnya.
            6. Guru secara sendiri-sendiri / bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesionalnya.
              1. Guru melanjutkan  studinya dengan :

1). Membaca buku-buku.

2). Mengikuti lokakarya, seminar, gerakan koperasi, dan pertemuan-pertemuan pendidikan dan keilmuan lainnya.

3). Mengikuti  penataran, dan

4). Mengadakan kegiatan-kegiatan penelitian.

  1. Guru bicara, bersikap, dan bertindak sesuai dengan martabat profesinya
  2. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru, baik berdasarkan lingkungan kerja, maupun di dalam hubungan keseluruhan.
    1. Guru senantiasa saling bertukar informasi, pendapat, saling menasehati dan bantu membantu sesama lainnya, baik dalam hubungan kepentingan pribadi maupun dalam menunaikan tugas profesinya.
    2. Guru tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan nama baik rekan-rekan seprofesinya dan menunjang martabat guru secara keseluruhan maupun secara pribadi.
    3. Guru secara bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdiannya.
      1. Guru menjadi anggota dan membantu organisasi guru yang bermaksud membina profesi dan pendidikan pada umumnya.
      2. Guru senantiasa berusaha bagi penongkatan persatuan di antara sesama pengabdi pendidikan.
      3. Guru senantiasa bersama, agar menghindarkan diri dari sikap-sikap, ucapan-ucapan, dan tindakan-tindakan yang merugikan organisasi.
      4. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.
        1. Guru senantiasa tunduk terhadap kebijaksanaan dan ketentuan pemerintah dalam bidang pendidikan.
        2. Guru melakukan tugas profesional dengan disiplin dan rasa pengabdian
        3. Guru berusaha menyebarkan kebijaksanaan dan program pemerintah dalam bidang pendidikan kepada orang tua peserta didik dan masyarakat sekitarnya.
        4. Guru berusaha menunjang terciptanya kepemimpinan pendidikan di lingkungan atau di daerahnya sebaik-baiknya.[1]

Dengan adanya Kode Etik Guru Indonesia ini, guru-guru di Indonesia mempunyai pegangan untuk melaksanakan tugas profesionalnya. Masyarakat dan Negara ingin agar kode etik tersebut dapat dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga satu pihak masyarakat dapat jaminan pelayanan yang profesional dari guru, di lain pihak guru merasa dilindungi dengan aman melaksanakan tugasnya serta mengembangkan dirinya.

Kualitas guru-guru di Indonesia- khususnya yang berstatus PNS dan guru sekolah swasta yang “hidup segan mati takmau”, juga saat ini berada dalam titik “rendah”. Para guru juga tidak hanya gagap dalam beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan fenomena sosial kemasyarakatan, mereka juga terjebak dalam kebiasaan menjadi “robot” kurikulum pendidikan. Prakarsa inisiatif para guru untuk belajar mengalimetode, bahan ajar dan pola relasi belajar-mengajar yang baru sangat minimalis. Tidak mengherankan ketika Depdiknas merekonsepsikan dan mengimplementasikan kerangka kurikulum pembaruan, KBK (kurikulum berbasis kopetensi), banyak guru yang sangat sulit memahami.

Banyak yang menggerutu dan beranggapan KBK hanya sebagai wujud kurikulum yang “ngayawara” (tidak realistik). Rendahnya mutu atau kapabilitas guru di Indonesia, selama ini disebabkan oleh beberapafactor-factor structural: para guru selama tiga dekada Orde Baru dijadikan “bemper” politik bagi kekuatan partai Golkar.  Guru dijadikan agen politik pembagunanisme dan juga agen pemenangan program partai golkar. Melalui organisasi Korpri dan PGRI, mereka dijadikan proyek korporatisme Negara. Kuatnya politik pendidikan, yang mengontrol arah dan system pendidikan selama tiga dekade membuat para guru seperti “robot” yang dipenjara melelui tugas-tugas kedinasan yang stagnan.

Rendahnya tingkat kesejahteraan guru Indonesia membuat mereka tidak bisa optimal dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar karena selalu mengurusi persoalan ekonomi keluarga. kuatnya kultur feodalistik dalam dunia pendidikan, sehingga tidak terjadi proses “social clustering” dan regenerasi ekskusif komunitas guru muda. Pola regenerasi bukan atas dasar kemampuan akademik dan kemampuan mengajar guru, namun level kepangkatan. Pemerintah selama ini tidak memiliki kerangka acuan untuk meningkatkan kualitas sosial dan intelektual para guru. Berbagai upaya internal di birokrasi pendidikan yang konon untuk meningkatkan kapabilitas profesi guru, justru lebih banyak pada lkegiatan pembinaan dan pendisiplinan guru dalam optic pemahaman kekuasaan. Para guru dibina dan disiplinkan pengetahuan, dan sikapnya selaras dengan kehendak penguasa, agar tidak mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan doktri Negara[2].


[1] Zahara Idris dan Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan, 1992, hal 45 – 47

[2] http://wwwcakep39.blogspot.com/2007/12/kode-etik-guru-indonesia.html

h1

Si Hijau yang Menghitam…

Januari 9, 2010

Suatu kebanggan ketika hutan Indonesia terpilih menjadi hutan paling subur no 2 di dunia setelah hutan Brazil. Sebuah pencitraan yang indah ketika Indonesia mendapat julukan sebagai “Negara Jamrud Khatulistiwa“. Namun seiring kemajuan jaman yang tak terelakkan cerita tersebut seakan menjadi puing-puing penggalan masa lampau indah Indonesia dengan segala kekakayaan hutannya. Pembangunan disana-sini memaksa untuk menggunduli hutan, yang pada mulanya hutan tersebut digunakan sebagai paru-paru dunia, dialih fungsikan untuk dijadikan gedung-gedung, mall-mall dengan segala isinya. Menurut situs (http://artikelglobalwarming.blogspot.com/)  Indonesia menghancurkan kira-kira 51 km persegi hutan setiap harinya, setara dengan luas 300 lapangan bola setiap jamnya. Yang hal tersebut benar-benar rekor dunia yang menyedihkan.

Mencairnya kutub es menjadikan salah satu wujud keganasan global warming yang mulai menteror bumi kita ini. Hal yang menyebabkan meningkatnya volume air laut seakan mengancam untuk terjadinya gelombang bencana yang besar. Perubahan cuaca yang begitu ekstrim telah dapat kita rasakan. Kepulan asap yang semakin hari semakin menghitamkan langit biru kian menambah akselerasi global warming.

UU No 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup telah diresmikan, isinya jelas sangat bermanfaat dalam upaya pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, namun yang menjadi permasalahan adalah mengenai substansi, sturkutral dan kultural sesuai apa yang disampaikan oleh Men Neg Lingkungan Hidup. Dalam UU tersebut memang sudah mengatur banyak hal perihal kelingkungan, akan tetapi terlalu banyak juga pihak-pihak yang belum peduli ataupun tidak memahami fungsi lingkungan sekitar mereka untuk kehidupan mendatang. Meningkatnya komersialisme seakan menambah kasus lingkungan, dalam hal ini mengenai illegal logging yang belum bisa dihentikan.

Jargon Internasional dalam Rangka Misi Penghijauan

Berbagai upaya untuk menghijaukan kembali bumi ini telah lama digembar-gemborkan oleh masyarakat dunia, memang belum terlihat hasil dari kerja keras masyarakat universal itu, karena ketika diadakan usaha perbaikan lingkungan, pihak-pihak tertentu yang tidak mempedulikan hal tersebut telah merusak terlalu dalam. Maka usaha ekstra keras sangat dibutuhkan dalam perbaikan bumi ini yang telah mengihtam.

Oleh karena itu kalau tidak dari kita siapa lagi yang menjaga bumi nan elok ini, yang satu-satunya memberikan kehidupan kepada kita semua…

SAVE OUR EARTH!!!

h1

Kondisi Transportasi Di Indonesia. Sudah Puaskah Anda??

Januari 9, 2010

Suatu negara dapat diukur tingkat kemajuan atau kesejahteraannya dengan beberapa faktor. Salah satu ukuran yang sangat mudah dalam melihat suatu Negara itu maju atau sejahtera adalah dengan melihat kepada sistem transportasi publik di Negara tersebut. Ketertiban, kemudahan dan kenyamanan serta ketepatan waktu dalam penyelenggaraan suatu sistem transportasi publik di suatu Negara, akan menggambarkan secara tidak langsung maju atau sejahteranya suatu bangsa. Seberapa baik sistem angkutan umum disuatu Negara adalah merupakan cerminan atau berupa suatu refleksi dari seberapa baik Pemerintah suatu Negara mengelola negaranya.

Sebuah negara yang maju dan makmur tentu senantiasa memperhatikan kepentingan orang banyak sehingga transportasi publik dapat tertata, tertib, bersih dan nyaman. Dari deskripsi tersebut maka pemerintahan yang baik dan maju adalah pemerintahan yang diisi oleh pejabat-pejabat yang mementingkan kebutuhan umum daripada kepentingan pribadinya. Lantas mengapa dari sistem transportasi publik suatu negara dapat dikatakan maju dan makmur hal tersebut berkaitan dengan kesungguhan pemerintah dalam pengelolaan transportasi itu sendiri, selain itu juga pada penggunaannya yang harus disiplin dalam tingkah laku dalam penggunaan transportasi publik. Hal tersebut merupakan cerminan dari disiplin yang diterapkan begitu tinggi, pengawasan yang baik, dan supremasi hukum yang ditegakkan secara baik.

Bagaimana dengan keadaan transportasi di Indonesia?? Runtutan kejadian miris mengenai kondisi transportasi kita perlu dianalisis lebih lanjut. Anjloknya kereta api, tabrakan yang tak terelakkan, bahkan jatuhnya pesawat, seakan-akan membuat rakyat selalu dikhawatirkan dengan peristiwa-peristiwa semacam itu.

Anjloknya Kereta Api Argo

Sebenarnya adakah yang dipersalahkan mengenai peristiwa-peristiwa tersebut?? Dalam hal ini tidaklah sepantasnya kita meng kambing hitam kan siapapun. Ketidak laikan fasilitas penunjang menjadi salah satu faktor mengapa rawan terjadinya kecelakaan. Namun sebenarnya apabila dikaji lebih lanjut faktor SDM juga mempunyai peran vital dalam hal ini, mis komunikasi yang sepele mengakibatkan bencana yang besar, masih segar dalam ingatan mengenai Tragedi Bintaro yang menelan banyak korban. Pendidikan yang diharapkan tidak hanya dari segi formal saja, melainkan juga non formal. Selain hal diatas mengenai tekhnologi yang begitu cepat, sehingga kita seakan sulit untuk mengimbanginya. Seperti yang kita tahu tanpa SDM yang memadai maka tekhnologi tidak akan mampu dipahami.

Sementara itu disana-sini untuk menemui kenyamanan dalam memakai transportasi publik masih sangat kurang, kasusnya banyak dijumpai orang-orang yang kecopetan di dalam kendaraan, macet yang berkepanjangan dan lain sebagainya. Hal tersebut tentu sangat mengganggu sekali bagi kenyamanan. Angkot yang parkir sembarangan, seakan menjadi cerminan amburadulnya sistem yang ada.

Akankah terjadi perubahan di masa datang?? Atukah hanya stagnan tanpa ada usaha??

Kita Tunggu Tanggal mainnya…

h1

Artis Terjun Dunia POLITIK?? Wajar ga’ sich??

Januari 9, 2010

Beribu tanda tanya jelas muncul ketika artis-artis lokal mencoba mengalihkan profesinya menjadi seorang politikus, tentu fenomena tersebut menjadi suatu hal yang patut dipertanyakan. Belum jelas memang apa dasar mereka untuk terjun ke dunia poltik, mungkin karena banyaknya pendatang baru?? Mungkin karena popularitasnya?? Atau  mungkin karena mereka memiliki kemampuan untuk itu?? Berbagai pertanyaan tersebut terus mengalir, namun kita juga jangan terlalu cepat untuk menjusticenya sebelum melihat sejauh mana perannya dalam pemerintahan.

Memang semua warga negara mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam kancah politik nasional, seperti halnya dengan artis-artis lokal kita. Banyak argumen miring dari khalayak mengenai hal tersebut.  Seakan menjadi kontroversi ketika kedatangan mereka ingin membawa perubahan terhadap negeri ini. Kebanyakan dari masyarakat luas meragukan kapasitas mereka, yang mungkin karena profesi seorang artis cenderung merupakan profesi yang mengedepankan keglamoran, foya-foya, ketenaran, dan lain sebagainya. Selain itu juga merupakan cerminan dari plagiat kehidupan dimana mereka berlindung dari topeng, jauh dari realita yang ada dan kehidupan mereka sehari-hari mungkin tidak terlepas dari sebuah skenario sandiwara.

Dari semua argumen tersebutlah muncul keraguan mengenai artis yang terjun ke dunia politik, semisal komedian yang menjadi salah satu anggota DPR apakah pemerintahan dibuat tertawa terus menerus tanpa konsentrasi sementara melihat rakyat  yang masih menangis karena kebutuhan yang terus melonjak, selain itu apakah artis tersebut hanya bisa menangis saat rakyat mati kelaparan. Hal semacam itulah yang mungkin ada di dalam otak rakyat.

Satu hal yang seharusnya perlu ditegaskan, kita tidak boleh memutuskan terlalu dini. Semua membutuhkan proses untuk menjadikan suatu sistem itu berjalan. Semoga kedatangan artis ke kancah dunia perpolitikan negeri ini dapat memberikan warna bagi politik nasional dengan kepemimpinan mereka selain itu juga mampu memberikan impact positif  kepada rakyat, sehingga rakyat menjadi bangga pada mereka, toh terlalu sering mendengar janji-janji manis tapi bukti yang diberikan hanyalah kosong. Tentu hal tersebut tidak ingin lagi dirasakan oleh rakyat. Karena sesuai dengan harapan rakyat  yang makmur dan sejahtera. Sehingga fenomena artis terjun ke dunia poltik dapat dikatakan wajar atas dasar kemampuan mereka bukan dari ketenaran mereka.

MERDEKA!!!